Bagarakan Sahur "Versi Lama" Yang Selalu Dirindukan
habarkotabaru.com - Bulan Suci Ramadhan bulan yang penuh berkah menghadirkan berbagai adat dan istiadat dimasing-masing daerah dalam memeriahkannya.
"Bagarakan Sahur" salah satu adat kebiasaan yang rata-rata ada di daerah di nusantara adalah sebuah kegiatan yang dianggap sebagian orang sangat penting dalam sebuah "prosesi" menyambut ramadhan.
Bagi masyarakat Kotabaru Kalimantan Selatan khususnya pada era tahun 80 dan 90 an begarakan sahur merupakan tradisi wajib ada disetiap desa atau kampung bahkan disetiap masing-masing RT.
Saat itu sebelum tiba bulan ramadhan anak-anak, remaja, bahkan yang orang tua beramai-ramai latihan memainkan musik dari alat musik sederhana seperti, kentongan bambu, botol kaca, kaleng bekas, ember bekas, panci bekas (bahkan panci buat masak emak pun diembat) hingga drum bekas pun terpakai.
Suara musik yang dihasilkan dari alat musik sederhana itu seakan satu irama dari setiap daerah. Suara musik yang ada sangat khas sekali bila didengarkan, ketukan dan iramanya sangat seragam.
Dulu begarakan sahur menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi anak-anak, remaja dan orang tua saat melakukannya. Alat musik sederhana dan cahaya obor bambu menambah suasana semakin riang gembira.
"Bagarakan Sahur" saat itu sangat polos mereka berkompetisi antar kampung untuk menampilkan suasana yang menghibur tanpa mengganggu.
"Bagarakan Sahur" pada saat itu adalah sebuah tradisi antara ibadah dan kesyahduan dalam memeriahkan bulan suci ramadhan yang pasti sangat melekat dalam memori kita yang hidup pada masa itu.
Sekarang era sudah berganti. Jaman sudah memasuki era digital. Pergeseran tradisi pun mulai terasa.
Sebuah pertanyaan kecil menggelitik muncul, apakah tradisi "Bagarakan Sahur" masih relevan saat ini ditengah era digital yang semua bisa dilakukan hanya lewat satu alat seperti gadget. Jawabannya masih relevan tapi dengan versi yang berbeda.
Versi sekarang sudah tidak lagi berkeliling masuk gang-gang sempit diperkampungan atau melewati pematang sawah. Sekarang terfokus dipusat kota dengan berbagai "atraksi" dari remaja milenial, dengan gaya dan cara mereka sendiri.
"Begarakan Sahur" bukan tergeser oleh jaman tapi hanya bermetamorfosis berubah "menyesuaikan jaman". Namun versi asli bagarakan sahur masih ada meski sudah sedikit langka ditemui dengan suara dan alat musik yang khas itu.
Namun apapun versinya "Bagarakan Sahur" semoga tidak mengurangi esensi dari Bulan Suci itu sendiri. Bulan yang penuh nikmat dan barokah, bulan penuh pengampunan dan bulan penuh hidayah.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bulan Ramadhan 1447 H. (red)
