Soe Hok Gie : Konsistensi Sebuah Idealisme Sang Aktivis Kesepian
Musuh terberat dari idealisme bukanlah tiran yang kejam, melainkan godaan kenyamanan. Sejarah Indonesia mencatat satu nama yang membuktikan betapa rapuhnya integritas manusia ketika disodorkan kekuasaan: Soe Hok Gie. Ia adalah potret seorang intelektual yang kawan-kawannya dulu berdarah-darah meneriakkan keadilan di jalanan, namun mendadak buta dan tuli ketika sudah duduk di kursi empuk berfasilitas negara. Di tengah parade kemunafikan itu, Gie secara sadar memilih jalan yang paling menakutkan bagi kebanyakan orang: Jalan Sunyi. Ini adalah kisah tentang harga mahal sebuah prinsip, yang dibayar tuntas dengan nyawa di pelukan Mahameru.
I. Bibit Pemberontak dari Bangku Sekolah
Lahir pada 17 Desember 1942 di Jakarta, Gie bukanlah anak muda biasa. Tumbuh di keluarga keturunan Tionghoa yang dekat dengan literasi, masa kecil Gie dihabiskan dengan melahap pemikiran Karl Marx, Mahatma Gandhi, hingga Pramoedya Ananta Toer. Dari sanalah, pemahaman tentang hak asasi manusia dan keadilan sosial merasuk jauh melampaui usianya.
Sikap anti-otoritarianisme Gie tidak meledak tiba-tiba di jalanan, melainkan dimulai dari ruang kelas SMP. Suatu hari, ia berkonfrontasi dengan guru Ilmu Bumi yang ia anggap tidak adil dan keliru memberikan materi. Puncaknya, Gie sengaja memotong nilai ujiannya sendiri karena menganggap sang guru tidak punya kapasitas untuk menilainya. Bagi Gie remaja, figur otoritas tidak berhak dihormati hanya karena gelar, melainkan dari kebenaran dan integritasnya. "Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah," tulisnya tajam.
Empati sosialnya semakin terasah saat melihat kemiskinan ekstrem di jalanan Jakarta era 1950-an. Ia muak melihat para pejabat berpidato lantang soal revolusi dan sibuk membangun proyek mercusuar, sementara rakyat jelata mengais sisa makanan dan antre beras di bawah terik matahari.
II. Menembus Tembok Orde Lama
Memasuki awal 1960-an, Indonesia berada di titik didih "Demokrasi Terpimpin" era Soekarno. Kebebasan berpendapat dibungkam, media dikontrol ketat, dan hegemoni politik memaksa semua orang tunduk pada satu narasi.
Di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Gie berdiri sebagai garda depan yang menolak politisasi kampus. Ia menentang keras campur tangan partai politik ke dalam ruang kuliah. Saat banyak mahasiswa memilih bungkam untuk cari aman, Gie menjadikan mesin tiknya sebagai senjata mematikan. Tulisannya menembus sensor koran-koran independen, menusuk jantung kebijakan pemerintah yang korup, dan membongkar kemunafikan elit di tengah kelaparan rakyat. Ia membentur tembok Orde Lama bukan dengan senjata api, melainkan dengan ketajaman rasionalitas dan keberanian moral.
III. Motor Jalanan dan Tragedi Kemanusiaan
Pasca-peristiwa berdarah G30S 1965, inflasi meroket dan negara hancur lebur. Gie tampil sebagai konseptor intelektual di balik Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan turut merumuskan Tritura, yang akhirnya meruntuhkan rezim Orde Lama.
Namun, di saat mayoritas mahasiswa mabuk dalam euforia kemenangan, Gie mencium bahaya baru. Ia sadar, militer yang menjadi sekutu mereka punya potensi menjadi diktator yang tak kalah kejam. Ujian terberat nuraninya terjadi pada periode 1966-1967. Saat terjadi pembantaian massal ratusan ribu simpatisan PKI, mayoritas masyarakat dan aktivis memilih tutup mata. Namun Gie yang sangat membenci ideologi komunis justru berangkat ke Bali, melakukan investigasi, dan menulis laporan menggemparkan berjudul "Kemelut di Bali".
Ia membongkar kekejaman aparat dan milisi sipil. Baginya, membunuh manusia tanpa proses peradilan yang sah adalah kejahatan mutlak, tidak peduli apa ideologi korbannya. Ia membela nyawa musuh politiknya sendiri, demi tegaknya hak asasi manusia.
IV. Dikhianati Kawan Sendiri
Fase ini adalah yang paling menguras emosi. Memasuki era Orde Baru, rezim Soeharto mulai membagikan "kue kekuasaan". Tawaran kursi empuk di parlemen (DPR-GR) membuat banyak pimpinan aktivis Angkatan '66 silau. Mereka yang dulu meneriakkan penderitaan rakyat, kini mulai menikmati fasilitas negara, mobil mewah, dan mendadak bungkam.
Gie menolak mentah-mentah tawaran jabatan itu. Ia tetap menjadi anjing penjaga. Saat terjadi tragedi pembantaian tahanan politik di Purwodadi, Gie menginvestigasi dan mempublikasikannya, sementara kawan-kawannya di DPR diam membisu.
Frustrasi melihat teman-temannya menjadi "kucing peliharaan" penguasa, pada awal 1969, Gie mengirimkan paket pos berisi bedak, cermin, dan lipstik ke belasan mantan tokoh mahasiswa di parlemen. Pesannya sangat menampar: Karena kalian sudah kehilangan keberanian dan kini hanya bisa bersolek di depan penguasa, pakailah kosmetik ini.
Aksi elegan ini membuat Gie dibenci dan dimusuhi oleh generasi seperjuangannya sendiri. Ia diasingkan karena terlalu jujur.
V. Pelukan Abadi di Mahameru
Merasa terasing, kesepian, dan muak dengan intrik kemunafikan Jakarta, Gie mencari pelarian ke tempat yang tak pernah berbohong: Alam. Sebagai pendiri Mapala UI, ia menginisiasi pendakian ke Gunung Semeru pada Desember 1969.
Dalam ransel pendakiannya ke gunung berapi yang ganas itu, ia masih menyempatkan diri membawa buku filsafat. Namun, banyak rekan menyadari bahwa tulisan terakhir Gie menyiratkan firasat. Ia mengutip filsuf Yunani: "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua."
Tragedi itu pun tiba. Pada 16 Desember 1969 sore, di Puncak Mahameru, angin membawa gas beracun dari kawah Jonggring Saloko. Dalam kondisi kelelahan yang luar biasa, Gie menghirup gas mematikan tersebut. Ia meninggal dunia dengan sangat tenang, seolah hanya tertidur di hamparan pasir berbatu Semeru, tepat satu hari sebelum ulang tahunnya yang ke-27.
Kematiannya mengguncang Indonesia. Kawan-kawan yang dulu ia kritik tajam menangis menyadari kemurnian idealisme yang telah hilang. Gie membuktikan bahwa kematiannya bukanlah sebuah kekalahan, melainkan proklamasi pamungkas untuk menolak menua dan membusuk bersama sistem.
VI. Epilog
Kisah Soe Hok Gie meninggalkan satu pertanyaan telak yang menggema hingga hari ini: Jika suatu saat dunia menawarkan kesuksesan, harta, atau pengakuan luar biasa, namun syaratnya kita harus melacurkan nurani... beranikah kita memeluk kesepian dan memilih diasingkan seperti Gie?
(Cerita ditulis ulang sama seperti yang ditulis di akun fb Fakta Abstrak)
